


| Antara harta, kebahagiaan dan ridhoNya |
|
|
|
| Written by Lazis UII |
| Thursday, 19 March 2009 02:00 |
|
Antara harta, kebahagiaan dan ridhoNya (Oleh : Ustdz. Cahyono)
Apa yang membuat anda merasa bahagia? Harta. Ya itulah jawaban yang terucap saat kita ditanya tentang apa yang membahagiakan di dunia ini. Walau tidak semuanya , namun sebagian besar mengatakan harta adalah salah satu hal yang membuat manusia bahagia. Jika kita lihat mulai dari kelahiran, persalinannya, popok, susu dan semua uborampe nya membutuhkan harta. Pendidikan juga membutuhkan harta, kita bisa lihat bagaimana kualitas pendidikan yang bisa diperoleh seseorang akan sangat dipengaruhi seberapa besar ia memiliki harta. Semakin kaya maka ia akan mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Kesehatan yang berkualitas tidak bisa dipungkiri juga memerlukan harta yang banyak. Bisa dilihat perbedaan yang sangat mencolok bagaimana kondisi para dhuafa yang sakit begitu parah ternyata hanya mendapatkan perawatan seadanya, bahkan harus pulang karena tidak ada biaya. Namun sebaliknya orang kaya yang hanya sakit biasa medapatkan perawatan yang sangat mewah. Itulah harta. Bahkan hingga kematianpun membutuhkan harta. Allahpun memandang harta sebagai “sarana berjualbeli dengan hambanya”. Ibadah mengabdi pada Allah juga membutuhkan harta. Allah berfirman : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.........(QS : attaubah : 111). Lima ribu rupiah yang menyadarkan hati ayah.... Sebuah kisah yang menginspirasi kita, sebagai bahan perenungan kita semua tentang harta. Ada sebuah keluarga kecil berkecukupan. Ayah, ibu dan seorang anak laki-laki kecil yang berumur 7 tahun. Sang ayah adalah seorang pekerja keras, kesehariannya bekerja di sebuah perusahaan konsultan bisnis. Kesibukannya luar biasa. Kehidupan di kota besar menjadikan hari-harinya begitu padat. Belum lagi macet dan lain sebagainya. Berangkat pagi hari sekitar jam 5 untuk menghindari kemacetan, dan pulang larut sekitar jam 10 malam. Sebuah rutunitas yang “super sibuk”. Ia mengatakan saya kan cari duit, untuk anak dan istri saya. Ketika pagi hari berangkat anaknya belum bangun, dan ketika pulang malam anaknya sudah tidur. Jarang sekali untuk bercengkrama sekeluarga. Hingga suatu malam si anak menunggu sang ayah yang pulang larut. Saat pintu diketuk si anak gembira sekali. Yah,...ayah pulang asyik. Teriak si anak. Lho ...ade kok belum tidur, Kan sudah malam” sapa ayahnya. ”Belum ayah, ade kan nunggu ayah”. Saut si anak. ”Ayah, boleh gak ade tanya?” Tanya anak itu dengan muka penuh harap. ”Tanya apa?”Saut ayahnya sambil duduk dan melepas sepatunya. ”Yah, ayah, gaji ayah berapa satu hari?” Tanya anak. ”Lho malam-malam kok tanya gaji. Kalo mau minta uang besuk aja, bapak capek”. Jawab ayahnya agak sedikit keras. Tapi sang anak terus bertanya. Maka ayahnyapun marah. Hingga akhirnya sang ayah berkata. ”Ya udah setelah ayah jawab ade bobo ya..gaji ayah satu hari 200.000”. ”kalo perjam berapa gajinya?” tanya anak itu penuh harap. Ayahnya semakin marah. Dengan suara agak keras sang ayah menjawab. Ayah kerja 10 jam perhari berarti 1 jam 20.000.dah sekarang ade bobo. Tiba-tiba si anak lari ke kamar dan dia kembali kepada ayahnya dan bertanya. ”Ayah , boleh gak ade pinjem uang 5000 aja?”. ”Ade, ini sudah malam. Bobo sana..ayah cape...untuk apa 5000?!!”. Dengan mata berkaca-kaca si anak menunjukkan uangnya yang ia ambil dari celengan kesayangannya. Dan berkata. ”Ayah, kata ibu waktu ayah itu mahal. Dan tadi setelah dihitung 1 jam 20 ribu. Ade Cuma punya 15.000, kurang 5000 kalo mau beli waktu ayah 1 jam untuk bermain. ”Ade pingin maen sama ayah,pingin renang sama ayah”. Sambil meneteskan air mata. Sang ayah terkejut. iapun memeluk erat anaknya, ia meneteskan airmata, tersadar kalo selama ini ia lupa memberikan kasih sayang pada anaknya. Ia hanya berfikir harta, harta dan harta. Ia menganggap harta adalah segalanya. Sepengal cerita ini bisa memberikan pelajaran untuk kita tentang harta. Dengan harta sebuah keluarga bisa bahagia namun tidak sedikit pula harta sebagai pemicu hancurnya keluarga. Dengan harta manusia bisa memperoleh kemuliaan. Namun sebaliknya bisa terjerumus dalam kehinaan , keserakahan bahkan menjadi manusia yang membabi buta. Cinta pada harta adalah sesuatu yang fitri atau anugerah dari Allah SWT. Namun ketika harta menjadi tujuan utama dalam kehidupan inilah yang menjerumuskan pada kenistaan. Berapa banyak manusia yang dalam kehidupannya bergelimang harta, namun dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, berapa banyak manusia yang awalnya menjadi saudara yang saling berbagi, namun akhirnya menjadi musuh yang saling membenci. Islam memiliki cara pandang yang khas tentang harta. Harta bukanlah tujuan namun hanya sarana atau wasilah untuk menghantarkan manusia pada pada kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan bukanlah harta itu sendiri namun bagaimana kita bisa mendapatkan dan memanfaatkan atau membelanjakannya secara benar menurut islam. Walau bergelimang harta namun jika diperoleh dengan cara yang melanggar syariat maka ia hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu dan sesaat. Allah berfirman : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila . Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS: AlBaqarah:215) Masih banyak cara memperoleh harta yang melanggar syariat. Mencuri, korupsi, menipu, menyuap (riswah) dll. Memang cara itu akan menjadikan manusia lebih mudah bergelimang harta. Namun bukan bahagia yang hakiki yang didapat itu hanyalah kebahagiaan semu. Jalan seperti itulah yang akan menghantarkan pada kesengsaraan dan kesempitan dunia dan akhirat. Kebahagian juga tak hanya ketika mendapat harta dengan cara yang benar namun juga membelanjakan di jalan yang benar.dan inilah harta yang sesunguhnya. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS:Al Baqarah:261) Allah berfirman: Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ta'atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.(An Nur:56) Sedekah adalah pembukti iman. Manakala sedekah yang dilakukan seseorang itu ikhlas tanpa mengharap apapun selain keridhaan Allah Swt, maka sedekah yang dilakukannya menjadi saksi atas kebenaran imannya. Takkan miskin orang yang bersedekah, takkan kekurangan bagi orang yang gemar bersedekah, namun justru sebaliknya. Allah akan menyuburkan sedekah itu. Jalan yang lain adalah zakat, menyantuni anak yatim, membelanjakan harta fisabilillah juga bentuk berjual beli dengan Allah. harta yang kita keluarkan itulah yang akan menghantarkan pada kebahagiaan yang hakiki, harta yang menjadi saksi diakhirat nanti. Harta kita yang sesungguhnya. |
| Last Updated on Thursday, 19 March 2009 02:23 |